Minggu, 05 Desember 2010

KUNGFU

Kung Fu adalah suatu ilmu yang luas bidangnya.Jadi Kung Fu bukanlah sekedar ilmu bela diri.Ruang lingkupnya luas,ia mencakup segi:

a)Olah raga dan kesehatan
b)Beladiri
c)Seni
d)Pendidikan Mental

Dari sekian segi-segi itu orang dapat saja menitik beratkan pada salah satu segi atau keempat-empatnya,sesuai dengan tujuan belajar Kung Fu.

Dalam ilmu pengetahuan tentang Kung Fu,dikenal dua macam Kung Fu,yaitu : Kung Fu yang keras(Gudu-KUng atau tenaga luar) yang mengandalkan “okol”.Sedang yang kedua adalah Kung Fu halus (Lwee Kang atau tenaga dalam) yang mengutamakan pemusatan fikiran dan tata pernafasan.Pada setiap serangan yang keras dihalau secara halus dengan meminjam tenaga lawan sendiri,sehingga lawan akan mudah kehabisan tenaga dan nafas.Tetapi di jaman sekarang,hampir disetiap perguruan Kung Fu di seluruh dunia akan di pelajari kedua-duanya.Bahkan jurus Kung Fu pernafasan (Khi Khang) merupakan pelajaranwajib bagi semua anggota ikatan Keluarga Silat KUNG FU di indonesia.

MENGUPAS KAROMAH AYAT KURSI Bag2

Nah, sebelum membahas lebih jauh, Penulis akan bedarkan terlebih dahulu dasar-dasar yang ada pada karomah Ayat Kursy, sehingga dengan pemahaman yang cukup jelas ini anda tidak akan ragu untuk mengamalkannya.
Dalam pandangan ahli kebathinan, Ayat Kursy disebut-sebut pula dengan istilah Ummul Ilmi atau induknya ilmu. Sedangkan menurut Ahli Hikmah menyebut Ayat Kursy sebagai Ummul Mahabbah atau inudknya pengasihan. Sedangkan yang terakhir menurut ahli mistik kejawen, mereka menyebut Ayat Kursy dengan istilah Segoro Ilmu atau lautnya ilmu.Memang, dengan banyaknya manfaat yang terkandung dalam ayat Al kursy, maka tidak heran bila sejak zaman dahulu kala hingga sekarang ini para ahli kebathinan berlomba ingin mendapatkan intisari kekuatannya. Namun bagaimanapun juga, Ilmu Ayatul kursy tidak mudah kita peroleh dangan hanya mengamalkan atau sekedar membacanya. Ilmu Ayatul Kursy ini punya sanad muttasil atau garis silsilah turun temurun yang tetap dijaga, sehingga dengan kemuttasilannya, Ilmu Ayatul Kursy menjadi salah satu ilmu paling mustajabah di muka bumi.
Berikut Penulis akan beberkan sanad atau silsilah turun temurun amalan Ayat Kursy yang sampai sekarang masih dilestarikan sehingga akan ada manfaat dan karomahnya.
Pertama kali amalan ini tercetus dari baginda Rasulullah SAW, lalu Beliau mengijazahkannya pada Nabiyullah KHidir AS. Khidir mengijazahkannya kepada tiga orang Quthbul Mutlak, yakni Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani, Syeikh Abil Qosim Al Bagdadi, dan Syeikh Abu Hasan Assyadzili.
Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani mengijazahkan secara ruhaniyyah kepada Syeikh Syarief Hidayatulloh dan Mbah Kuwu Cakra Buana. Syeikh Syarif Hidayatulloh akhirnya mengijazahkan kepada putranya, Pangeran Cirebon.
Nah, dari sini silsilah amalan ini sempat putus dan baru ada setelah selang 154 tahun, yaitu dari Syeikh Abdul Baqir yang menerimanya lewat hawatif yang diberikan langsung oleh Sunan Gunung Jati Cirebon. Akhirnya, dari sinilah amalan ini turun temurun diijzahkan hingga sampai sekarang.
Penulis lanjutan lagi silsilah amalan Ayatul Kursy lewat Syeikh Abdul Baqir, dengan runutan sebagai berikut:
Syeikh Abdul Baqir-Syeihk Majegung Sekti-Syeikh Abdul Lathif-Kan’an bin Nawawi-Muhammad Suyuti- Ahmad Al Idrus-Kyai Bukhori-Kyai Martapada- kyai Jani Kusuma diningrat- Abah Thosin- Abah Inu- Abah Hud- Abah Ilyas-Kyai Burhan- Kyai Nawawi dan yang terakhir adalah Idris Nawawi (Penulis).
Namun, sebagai ta’dzim watahriman atau menghormati para ahlillah, Anda yang ingin melestarikan amalan ini tidak perlu semua pengijazah diatas dibaca, cukup memulai tawassul seperti berikut ini:
- Ila hadrotin nabiyyil musthofa rosulillahi SAW, Al Fatihah 1x.
- Tsumma ila hadroti ashabihi minal ambiya’i wal mursalin wa a khussu khossotan, ila hadrotin nabiyalloh ilal Abbasil Hidir Baliya bin Malkan As, waila hadroti syeikh Muhyiddin Abdul Qodir Al Jaelani Qoddasallohu sirrohuma wa ‘a’ada alaiya mimbarokatihima wakaromatihima wa ulumihima wamiddana bimada dadihima syaiun lillahi lahuma walahum Al Fatihah 3x.
- Tsumma ila hadroti syeikh Syarif Hidayatulloh, wambah Kuwu Cakra Buana, wakhodamus syarifah min ahli masjid agung Kesepuan Cirebon, Qoddasallohu sirrohuma wa ‘a’ada ‘alaiya mimbarokatihima wakaromatihima wa ulumihima wamiddana bimada dadihima syaiun lillahi lahum Al Fatihah 1x.
- Tsumma ila hadroti Abil Qosim Al Bagdadi, waila hadroti Abul Hasan Assyadili, wa Abul Abbas Al Jahri Baliya Bin malkan, waila hadroti syeikh Abdul Qodir Al Jaelani waila hadroti syeikh Syarif Hidayatulloh wambah Kuwu Cakara Buana, wa kyai Bukhori, syaiun lillahi lahum Al Fatihah 7x.
Setelah ini, baca ayat ursy dan sesudahnya berdoa seperti yang Penulis tulis sebelumnya.
Untuk pengamalan ayatul Kursy, paling baik dipuasai selama 41 hari dengan buka dan sahur bilaruhin (tidak makan yang bernyawa). Namun bila tidak kuat dalam melaksanakan puasa yang cukup lama ini, Anda bisa mengurangi puasanya dengan hitungan sebagai berikut: 41/ 31/ 21/ 17/ 11/ 9/ 7 hari. Terserah berapa hari yang Anda mampu dan inginkan. Disini tentunya kekuatan dari karomah yang ada akan bervariasi tergantung lamanya Anda berpuasa.
Tapi yang paling penting dan perlu diingat, berapapun lamanya Anda berpuasa, buka dan sahur harus dengan cara bilaruhin atau tidak makan yang bernyawa. Dan untuk bilangan ayatul Kursy yang harus Anda baca di setiap malam paling sempurna 333x. Tapi bila tidak kuat boleh dengan bilangan yang lebih rendah, yakni: 331x/ 221x/ 121x/ 77x.
Sedangkan doa yang harus dibaca, Anda boleh memilih banyak tidaknya tergantung dari keihlasan hati, yaitu boleh dibaca sebanyak 41x/ 31x/ 21x/ 11x.
Nah, sebagai kesempurnaan dalam melaksanakan ritual Ilmu Ayatul Kursy, amalanya ini harus selalu dibaca secara istikomah setiap pukul 23.00 atau lebih, sampai dengan selesainya puasa.
Bila anda sudah melakukan tirakat yang Penulis sebutkan tadi, Anda bisa buktikan langsung manfaatnya, terutama dalam hal pengasihan. Karena Penulis sendiri sejak tahun 1995 sudah digembleng oleh sang guru, yaitu diharuskan puasa Ilmu Ayatul Kursy selama 41 hari dan diulang sebanyak 3x = 123 hari. Namun sekali lagi Penulis katakan, bahwa kuat tidaknya ilmu ini tergantung dari lama tidaknya Anda berpuasa dan mengamalkannya.
Nah, bagi yang mengikuti puasa 41 hari serta mengamalkan paling banyak, coba buktikan sendiri. Hasilnya pasti luar biasa. Tanpa sadar kita akan bisa berhubungan langsung dengan para goib, bisa mengobati penyakit secara spontan, bisa meracik sarana pengasihan secara permanen, bisa mengisi gaman dan pusaka kapanpun kita mau, bisa mengambil pusaka tanpa harus gerak, dan yang paling mencengangkan dalam manfaat ilmu ini kita akan terus disukai lawan jenis di manapun kita berada.
Kini, semua tergantung para pengamal. Bila Anda sekalian mau mengikuti kesempurnaan dari tirakat yang sudah kami bedarkan di atas, maka Insya Allah hasilnya akan sangat bermanfaat.
Ilmu ini sangat langka dengan sanad atau silsilah lengkap yang keakuratannya masih sangat terjaga, baik dalam hal karomah maupun manfaat lainnya.
Sebagaimana kisah keberhasilan dari salah seorang tokoh pengijazah yang pernah dituliskan dalam biodatanya, yaitu sebuah sanjungan dari kidung Jawa yang dituliskan memakai huruf Arab. Tokoh dimaksud adalah Kyai Burhan, Godong, Demak Jateng (Alm). Dia banyak mengupas tentang kedahsyatan Ayatul Kursy, di antara salah satu tulisannya berbunyi demikian:
“ Ngerti ora ngerti kang pasti gerak ngelakoni, wujud ora ketoro yen ora ngumbeni ilmu, agung pisan ilmu ibu rugi kang akeh cangkem mlumah badan ora gerak. Sejatine ilmu agung kang dadi kedelok, sejatine ilmu wujud kang akeh nyoto keagungan, ora rugi ngumbe ilmu iki kang dadi akhir derajat mulyo ing dunya lan gon mati, ilmu kang kesifatan sempurnane alam, urip saking dadi lan mati saking males, godong ijo kang memantes ,kayu kuat kang dadi jogo, akar atos kang dadi pinguat, ora nana kang dadi sempurna kecuali neng jerone Ayatul Kursy, Ars kang dadi lambang paling duwur, saking keagungan kang maha agung.”
Kurang lebih artinya:
“Mengerti maupun tidak mengerti yang pasti kita harus bisa melaksanakan puasa dan tirakat ilmu Ayatul Kursy, karena bagaimanapun juga ilmu ini tidak akan bisa kita dirasakan apabila hanya berdiam diri, ilmu ini sangat agung sebagaimana ilmu bangsa uluhiyah/ raja, sesungguhnya sangat rugi bagi kita yang hanya mengumbar mulut tapi tidak mau melaksanakan arti tirakat, sejatinya ilmu agung pasti akan tampak segala karomah yang bisa kita perlihatkan secara nyata, sejatinya ilmu yang sangat mustajabah dengan segala keagungan yang bisa diwujudkan, sungguh tidak rugi memiliki ilmu ini dengan tirakat dan penebusan dari badan kita sendiri, sebab ilmu ini akan membawa derajat kita selamat dunya dan akherat, ilmu yang mempunyai sifat sempurna dari semua ilmu yang ada di alam buana, ilmu ini akan terus hidup kecuali bagi orang malas yang tidak mau melaksanakan penebusan puasa dan tirakat, ilmu yang menjadi kesempurnaan, ilmu yang menjadi tameng dari segala marabahaya, ilmu yang menjadi perisai paling kokoh dalam sanubari dan ruhaniyyah kita, karena sesungguhnya tidak ada yang sempurna kecuali karomah ayatul kursy, Ars yang menjadi nama dari ilmu ini dan Ars pula derajat tertinggi dari semua derajat, sesungguhnya ilmu ini sangat agung dari semua yang dianggap agung”
Dalam sejarah hidupnya, Kyai Burhan ini sangat terkenal sekali di kalangan sufi dan ahli taraket Jawa akan derajat kewaliyannya. Semasa hidupnya sang Kyai tidak pernah meninggalkan amalan Ayatul Kursy ini hingga akhir usia. Karena itulah almarhum diberi karomah oleh Allah SWT, lewat wasilah ilmu Ayatul Kursy hingga menjadi seorang yang memiliki kelebihan tinggi, diantaranya: Bisa menciptakan uang secara kontan, bisa merubah daun dan benda lainnya jadi emas, dan yang paling masyhur bisa mendatangkan batu merah delima dalam satu hari sebanyak 110 biji.
Disisi lain, sang Kyai juga terkenal dengan ketepatannya dalam berhitung, seperti saat dia menghitung jatuhnya dedaunan di seluruh wilayah Demak dalam kurun satu hari, waktu itu dengan 2004 personil yang dikerahkan untuk memungut daun yang jatuh sekaligus menghitungnya. Ternyata apa yang diucapkan oleh Kyai Burhan ini sangatlah tepat….
Kini terserah para Pembaca mau tidaknya menjalankan Ilmu Ayatul Kursy yang didalamnya sarat akan manfaat dan faedah. Bagi Anda yang bersungguh sungguh tentunya akan membawa suatu keberuntungan hidup yang lebih baik dikemudian hari.!

MENGUPAS KAROMAH AYAT KURSI Bag1

Ayat Kursy memiliki banyak keistimewaan. Dan sajian berikut ini mengupas tentang 10 karomahnya. Seperti apa rahasianya…?

Menurut kalangan ulama salaf, ayat Kursy merupakan salah satu ilmu tertinggi dalam pencapaian derajat. Wilayah, karomah serta mu’jizatnya ansabul ilmi dengan suatu penafsiran, tidak ada ilmu lain yang menyamai akan rahmat serta salamnya. Karena ayatul Kursy tercipta sebagai suatu puncaknya alam, yaitu Arsy (langit ketujuh) dan sebagai ilmu teragung. Yang mana, Allah SWT menurunkannya pada seorang hamba yang agung pula, yaitu utusan akhiru zaman, Rasulullah Muhammad SAW.
Dari zaman ke zaman, ayatul Kursyi selalu dibaca oleh seluruh umat, misalnya dalam suatu tadarus Al-Qur’an, dzikir bersama, serta dalam upaya pendekatan diri kepada sang Khaliq. Dalam sebuah arti ritual, asma ayatul Kursy mempunyai suatu kunci sebagai pembukanya. Demikian menurut para masyaikh, mursyid serta para ahlul ghoib.Sebagai kunci ayatul Kursyi, adalah sanadnya, atau silsilah, tawassul serta hadoroh, karena dari Nabiyullah Muhammad SAW, ayatul Kursyi turun temurun dipegang oleh para khosois pilihannya. Hingga suatu karomah ilmu tersebut, tak pernah pupus sampai akhir zaman.
Runtutan ilmu ayatul Kursyi adalah sebagai berikut :
1. Tawasul,
2. Ayat Kursy,
3. Do’a,
Allohumma inni as’aluka bihakikal adzim,
Wabihakki nuri wajhikal karim,
Wabihakki hadzihil ayatis syarifah,
Wabihaibati hadzihil ayatis syarifah,
Wabi Manzilati hadzihil ayatis syarifah,
Wabifadli hadzihil ayatis syarifah
(antul himani ilman ladunian nafi’an waddunya wal akhiroh),
Inaka ala kulli syai’in qodir, wabil ijabati jadir. Wasolloha wasalam ala khoiri khol kihi muhammadin wa’ala alihi wasoh bihi wasallam walahamdulillahi robil ‘alamin.
Dalam suatu amaliyah, ilmu ayatul Kursyi terbagi menjadi 5, yaitu: 7 hari, 17 hari, 21 hari, 31 hari, dan 41 hari. Semua itu tergantung dari niatan dan keikhlasan dari seorang ritualis itu sendiri di dalam memilih arti tirakat di atas. Dan sebagai suatu kuncinya, maka, siapkanlah terlebih dahulu Buhur Ambar.
Karena buhur tersebut aroma wanginya sangat disukai oleh Naibiyullah Muhammad SAW, tak pelak, secara turun temurun buhur tersebut selalu dipakai para khosois ahli batin sebagai salah satu syarat dan sunnatur rosul.
Adapun Ayatul Kursy sendiri memiliki 10 macam keistimewaan, yakni:
1. Sarana pengasihan diri
Jika menginginkan suatu “raja asihan” ratu pelet jagat buana, baiknya lakukan dengan puasa BILA RUHIN (tanpa makan yang bernyawa) selama 7 hari atau 17 hari lamanya. Dan untuk menjadi “raja asihan” maka lakukanlah tata cara sebagai berikut;
- Sebelum melaksanakan ritual di atas, sebaiknya sholat hajat terlebih dahulu dua rakaat. Dan sesudahnya bakar buhur ambar sebagai suatu syarat sunnatur rosul.
- Baca tawasul terlebih dahulu. Baru kemudian baca ayatul Kursy sebanyak 41x diteruskan dengan doanya sebanyak 21x
- Setelah selesai ritual, bakar buhur ambar kembali, dan asapi kedua telapak tangan diatasnya sekitar 1 menit kemudian sapukan kedua telapak tangan tersebut ke wajah. Tentunya, cara ini sebagai suatu sarana magis pembuka aura ketampanan maupun kecantikan.
- Paling baik ritual dilakukan pada pukul 23.00.

2 . Ilmu pelet jarak jauh
Panah asmara bisa dibuktikan secara langsung hasilnya dengan ketentuan sebagai berikut:
Carilah daun nangka tunggal, tegasnya, daun yang hanya satu helai di dalam satu tangkai. Biasanya, daun jenis ini banyak terdapat pada tangkai buah nangka yang sudah tua atau akan matang serta berwarna agak menguning. Carilah daun itu sebanyak mungkin hingga sebuah ritual maha dahsyat pun siap dilaksanakan;
- Tulis nama lengkap orang yang akan dituju berikut nama orang tuanya di atas daun nangka tersebut.
- Bakarlah buhur ambar, dan asapilah daun nangka tersebut sambil dibolak-balik sekitar 1 menit.
- Bacalah tawassul terlebih dahulu, kemudian diteruskan dengan membaca ayatul Kursy sebanyak 121 x, lalu ditutup dengan doa sebanyak 41x.
Untuk pembuktian terkena atau tidaknya sasaran yang dituju, maka, celupkan daun nangka yang sudah dirituali ke minyak tanah, solar, atau bensin. Kemudian bakar! Jika daun terbakar habis, maka, ilmu pelet itu belum mengenai sasarannya. Tapi, bila hanya terbakar separuh, itu pertanda ilmu pelet telah mengenai sasarannya.

3 . Untuk media penyembuhan
Ambillah satu botol air mineral dengan tata cara sebagai berikut :
- Bakar buhur ambar
- Peganglah botol air mineral dengan kedua tangan.
- Bacalah sanad atau tawassul terlebih dahulu. Lalu mohonkan suatu kesembuhan pada sang Kholiq secara tulus dan ikhlas.
- Bacalah ayatul Kursy berulang-ulang, sambil pikiran terfokus pada air mineral tersebut sampai adanya suatu perubahan. Dengan kata lain, kita akan merasakan suatu hawa dingin pada air mineral yang kita pegang. Seolah air tersebut diberi es di dalamnya. Bila sudah begitu, maka, teruskan dengan membaca do’a sebanyak 3x.

4 . Memperlancar rizqi
Coba ikuti kiat berikut ini:
- Setiap usai sholat fardhu dawamkanlah ayatul Kursy.
- Tawassul (seikhlasnya) ayatul Kursy 11x dan doanya 7x, lakukan cara tersebut setiap hari. Insya Allah, suatu kerezekian maha dahsyat akan mengiringi hidup Anda.

5 . Zimat pagar ghoib
Pagarlah rumah atau tempat usaha Anda dengan sarana magis ayatul Kursy. Dengan cara sebagai berikut :
- Tulislah dalam sehelai kertas, dari tawassul ayatul Kursy hingga sampai kedoanya dengan tinta ja’faron super, dan tempelkan di atas pintu rumah. Niscaya akan aman dari marabahaya bersifat hitam.

6 . Azimat kerezekian
Sebagai penarik rizki 4 penjuru mata angina. Lakukan cara seperti No. 5 di atas. Dan masukkan azimat tersebut pada laci uang di toko/warung Anda. Insya Allah, suatu keberuntungan akan selalu menyertai.

7 . Sarana kecerdasan akal
- Ambil kemenyan Arab putih sebesar kuku anak-anak, masukkan kemenyan tersebut pada air susu panas.
- Bakar buhur ambar, lalu bacalah tawassul sebagai suatu kunci, kemudian diteruskan dengan membaca ayatul Kursy 3x, serta doanya 3x.

8 . Sarana penarik mimpi
Bagi muda-mudi yang sedang dilanda asmara, tentunya amatl ingin bila sang pujaan hati selalu memimpikan kita. Dan semua itu bisa terlaksana dengan suatu kiat sebagai berikut :
- Ambil satu daun sirih (langsung dipetik dari pohonnya), kemudian tulis nama yang akan dituju berikut nama kita sendiri di atas daun sirih tersebut.
- Bakar buhur ambar dan asapi daun sirih magis tersebut.
- Baca tawassul, lalu ayatul Kursy sebanyak 17x ditutup dengan doa sebanyak 7x. Setelah selesai letakkan daun sirih magis itu di bawah bantal untuk ditiduri. Niscaya, dalam hitungan jam, sang pujaan hati pun akan memimpikan kita.

9 . Selamat dari suatu masalah
- Ambil garam kasar yang masih murni, masukkan dalam segelas air putih. Kemudian tulis nama-nama orang yang bermasalah dengan kita, dan masukkan ke dalam air garam tersebut.
- Bakar buhur ambar dan asapilah air garam di atasnya sekitar menit.
- Baca tawassul seikhlasnya, lalu diteruskan dengan membaca ayatul Kursy sebanyak 21x, kemudian doa 11x.
- Buang air garam tersebut di depan pintu rumah kita. Niscaya orang yang punya masalah akan enggan atau malas menagihnya.


10. Sebagai sarana pengisian benda bertuah
Untuk spirituallis ilmu ayatul Kursy yang menginginkan suatu pengisian kedigjayaan ataupun lainnya, ada baiknya mengikuti cara sebagai berikut :
- Puasa bila ruhin (tanpa makan yang bernyawa) selama 17 hari.
- Setiap jam 23.00, sholat hajat 2 rakaat, sesudahnya bakar buhur ambar sebagai sarana dan sunnaturrosul.
- Baca tawassul seikhlasnya. Lalu baca ayatul Kursy sebanyak 121x, dan doanya sebanyak 41x, lakukan cara seperti di atas selama 17 malam berturut-turut.
- Sebagai sarana pengisian atau yang ingin diisi, ambil batu akik, kulit kijang, macan, gaman, dan lain sebagainya.
- Bakar buhur ambar dan asapi benda yang akan kita isi di atasnya + 5 menit, lalu masukkan benda tersebut pada segelas air putih.
- Baca ritual seperti diatas dengan hitungan ayatul Kursy sebanyak 21x dan doanya 11x, bila sampai di (….) hilangkan kalimat di dalamnya, diganti dengan tujuan pengisian.
Untuk membuktikan masuk atau tidaknya suatu pengisian, maka, lakukan cara sebagai berikut :
- Ambil benda yang sudah diisi. Lalu carilah kamar kosong dan tutup pintu kamar tersebut.
- Untuk penerangan, cukup nyalakan sebatang lilin dan letakkan di lantai.
- Mulailah duduk bersila + 1 meter dari nyala lilin.
- Fokuskan mata kita ke api lilin + 30 menit. Pada saat ini, mata jangan sekali-kali terpejam. Bila waktu sudah dianggap cukup, ambil benda yang barusan diisi dan tatap seperti halnya waktu menatap api lilin tadi. Bila benda tersebut memendarkan cahaya berkunang-kunang dan mempunyai warna hijau, kuning, putih, hitam maupun merah, semua itu sudah menandakan isian yang tadi dilakukan sudah masuk ke dalamnya. Dan itulah yang disebut dengan isian PAMOR MAGIS.
Demikianlah 10 keutamaan ayat Kursy menurut yang pernah penulis pelajari dari beberapa orang guru. Karena alasan teknis, memang ada beberapa bagian yang terpaksa penulis tidak beberkan dalam sajian ini. Semoga bermanfaat.

INTERAKSI ISLAM DAN BUDAYA JAWA

Dari uraian selintas di bagian depan, terbayang bahwa tidak ada benturan yang berarti antara Islam dan budaya Jawa. Bahkan antara kedua belah pihak nampak saling mendukung dan saling membutuhkan. Para penyebar Islam yang umumnya dipimpin para sufi tidak punya ilmu untuk memerintah dan tidak ingin merebut pemerintahan dari tangan raja-raja Jawa.

Mereka hanya membutuhkan perlindungan ataupun bantuan dari pemerintah. Demikian pula para raja-raja Jawa sangat membutuhkan dukungan umat Islam yang sejak akhir kerajaan Majapahit telah merupakan kekuatan yang nyata. Bagi masyarakat pesantren, agama adalah nilai nomor satu dan segalanya; sebaliknya para penguasa dan pendukung sastra budaya Jawa, kedudukan dan kekuasaan politik yang nomor satu dan segalanya.



Bagi pendukung sastra budaya Kejawen yang berpusat dilingkungan kerajaan-kerajaan Jawa di Daerah pedalaman, agama adalah nomor dua. Agama apa saja tidak masalah asal bisa dimanfaatkan untuk memperkokoh kedudukan dan kekuasaan politik mereka. Maka sesudah Sultan Agung berhasil mematahkan kesultanan pesisiran yang mendapat dukungan masyarakat pesantren, segera menyadari perlunya menetapkan strategi budaya untuk menghubungkan dua lingkungan budaya. Yakni lingkungan budaya pesantren dengan sastra budaya agama yang berbahasa Arab; dan lingkungan budaya Kejawen dengan sastra budaya Jawa yang berpusat dalam lingkungan istana kerajaan-kerajaan Jawa. Strategi untuk dan membaurkan unsur-unsur Islam dalam budaya Jawa yang berpusat dalam budaya Jawa dimulai dengan mengganti perhitungan tahun Saka yang berdasar perjalanan matahari, menjadi perhitungan tahun Jawa yang berdasar perjalanan bulan, dan disesuaikan dengan perhitungan tahun Hijriyah. Mingguan Hijriyah yang terdiri dari tujuh hari, diintegrasikan dengan Mingguan Jawa yang terdiri dari lima harian, menjadi Senen Wage, Selasa Kliwon, dan seterusnya. Demikian nama bulan-bulan Jawa disesuaikan dengan nama bulan Hijriyah, menjadi Sura, Mulud, dan seterusnya.

Strategi yang dicanangkan Sultan Agung diatas ternyata menggairahkan para sastrawan Kejawen untuk menekuni pokok-pokok ajaran Islam untuk menyusun karya-karya baru dengan menyadap dan mengolah unsur-unsur ajaran Islam untuk memperkaya pengembangan sastra Jawa. Dari ketekunan ini para sastrawan Jawa segera mengenal bahwa ajaran Islam telah berkembang cukup komplek. Dari aspek syariat formal yang sering mereka nilai kaku dan formalis legalis, ternyata juga memiliki aspek ajaran filsafat sufisme yang amat halus dan kaya-raya. Dan kemudian aspek filsafat mistik sufisme yang sangat menarik perhatian mereka, mereka sadap dan mereka olah untuk memperhalus dan memperkaya sastra budaya Jawa. Maka muncullah berbagai macam sastra suluk Jawa yang dituangkan dalam sekar macapatan, semisal "Suluk Quthub", "Suluk Sukma Lelana", "Suluk Seh Amongraga", dan lain-lainnya. Cerita-cerita serat babad, seperti "Babad Demak", "Babad


Tanah Jawa", "Babad Tapel Adam", dan lain-lainnya, baik berbentuk prosa (gancar) ataupun puisi (sekar macapat), "Serat Centhini", dan lain-lainnya, yang umumnya diungkap dalam sekar macapat.

Kemudian dalam masa kebangkitan dan pembaharuan bahasa dan sastra Jawa halus pada zaman krida Kapujanggan Surakarta, pertumbuhan bahasa dan Sastra Jawa Baru mencapai puncak kesuburan dan keagungannya. Zaman itulah kelahiran bahasa dan sastra jawa baru atau Klasik. Yakni pada zaman sesudah pemerintah kolonial Belanda dengan tipu dayanya berhasil memecah kerajaan Mataram jadi tiga negara gurem, Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran. Dalam perpecahan itu melalui palihan negara inilah Belanda berpura-pura jadi penengah untuk menelanjangi seluruh kekuasaan sosial-politik dan pemerintahan raja-raja Jawa. Maka sejak masa perpecahan itu, walaupun para raja masih dibolehkan memakai sebutan Sunan atau Sultan, namun pada hakekatnya tinggal sebagai pensiunan pegawai pemerintah kolonial Belanda semata. Dan karena uang pensiun para raja waktu itu cukup lumayan, maka sebagai kompensasi diangkatlah para pujangga istana untuk mempertahankan wibawa dan kebesaran para raja dan keluarganya melalui karya sastra.

Maka timbullah kebangkitan dan pembauran sastra-sastra Jawa kuna digubah kembali dalam sastra Jawa baru dan diperhalus dengan unsur-unsur dari ajaran sufisme dalam Islam. Dari krida para pujangga dan sastrawan itulah mencuatnya sastra Jawa Baru sebagai puncak kebesaran sastra Jawa. Dikatakan puncak kebesaran sastra Jawa karena pada akhir zaman kapujanggaan bermulalah zaman baru (zaman ilmiah) dan dominasi bahasa Indonesia. Yakni zaman munculnya era Pujangga Baru yang meneriakan sastra budaya yang rasional, bukan zaman mistik lagi.

Jadi dalam konpensasi untuk mempertahankan wibawa raja-raja Jawa melalui karya sastra masa itu, para pujangga menggubah sastra-sastra Jawa kuna dan dibumbui dengan sadapan dan olahan unsur-unsur Islam Sufi dalam karyanya, agar karyanya bisa diterima baik masyarakat pesantren ataupun Kejawen. Kerja para sastrawan Kejawen sangat berjasa dalam pengislaman sastra dan bahasa Jawa. Maka bahasa dan sastra Jawa baru semacam "Serat Centhini", "Serat Wedhatama", "Serat Wulangreh", "Serat Sanasunu", "Babad Tanah Jawi", "Babad Demak", "Serat Ambiya", "Serat Menak Jayengrana", "Serat Paramayoga", "Wirid Hidayat Jati", berbagai macam sastra suluk, dan lain-lainnya, sangat berjasa dalam membuka dan mendekatkan hati masyarakat dengan pesantren yang sangat tertarik dan sangat bangga dengan dongeng Walisanga, karya dalam cerita Babad Tanah Jawa, Babad Demak, yang sebenarnya hanya cerita-cerita rekaan para sastrawan Kejawen. Bahkan hingga dewasa ini para kiai belum bisa membedakan antara sejarah dengan cerita-cerita dongeng Walisanga bikinan para sastrawan zaman Mataram di atas, apalagi masyarakat akar rumputnya. Pengaruh sufisme memang sangat menghambat pertumbuhan cara berfikir ilmiah.

Zaman penyebaran Islam ke Indonesia memang zaman dominasi Islam Sufi, yang ditandai dengan kebangkrutan dan kemunduran cara berfikir ilmiah di mana muncul pemeo bahwa pintu ijtihad telah ditutup, yang berarti tidak ada mujtahid lagi. Jadi para Kiai penyebar agama


Islam di Jawa di samping sangat sibuk mengkaji kitab-kitab kuning, juga kurang mengerti tentang masalah strategi kebudayaan. Bagi para Kiai pengikut tarekat yang penting adalah menyiarkan agama dan mengajar mengaji. Sebaliknya para sastrawan dan pujangga Kejawen, mereka ini harus berkarya, dan untuk mengembangkan sastra kejawen masa itu (zaman Islam) di samping dengan mengubah cerita-cerita Jawa Kuna, perlu pula diperkaya dan diperhalus dengan menyadap dan mengolah unsur-unsur Islam di samping pelaksanaannya strategi kebudayaan, juga merupakan sumber bahan-bahan baru bagi karya-karya mereka. Strategi ini bisa dipandang sebagai peng-Islam-an warisan sastra Jawa agar dapat dipasarkan di lingkungan masyarakat pesantren.

Usaha ini berhasil mencuatkan perkembangan sastra Jawa Baru, di mana bahasa dan sastra Jawa menjadi semakin bergaya feodal dengan menciptakan bahasa Jawa ngoko (untuk klas rendahan), kromo untuk (menghormati orang-orang tua), dan kromo inggil (untuk menghormati klas priyayi). Penciptaan cerita mitos tentang Walisanga di atas, oleh para pujangga Kejawen berhasil pula menyodorkan mitologi Walisanga, sekaligus menyodorkan proses peralihan zaman, dari zaman Kabudan (zaman Majapahit, Hindu) ke zaman Kewalen (zaman Islam). Maka pada zaman Kewalen (zaman Islam), apabila ada priyayi atau orang bertapa yang memberi wangsit (wahyu) bukan dewa lagi, tetapi Sunan Kalijaga (Wali).

Wayang yang ceritanya bersumber dari serat Mahabarata dan Ramayana yang jelas-jelas Hinduisme saja dicoba untuk di-Islamkan. Misalnya dikatakan bahwa wayang itu bikinan para Wali, dan bahwa raja Ngamarta punya azimat yang sangat keramat, yaitu serat Kalimasada (Kalimat Syahadat). Lebih aneh lagi cerita dalam Serat Paramayoga karya Ranggawarsita. Di dalam serat ini diceritakan bahwa Iblis punya anak perempuan bernama Dajlah. Pada suatu ketika Dajlah disulap oleh Iblis, punya rupa seperti isteri nabi Sis, putra Nabi Adam. Kemudian isteri Nabi Sis disembunyikan Iblis, dan Dajlah bisa tidur bersama dengan Nabi Sis hingga mengandung, dan punya anak laki-laki dinamakan Sayid Anwar (berupa cahaya).

Karena Sayid Anwar punya darah Iblis, maka tidak patuh pada ayahnya, pergi mengembara ke Timur atau India, dan menurunkan para Dewa dalam Hinduisme (dalam cerita wayang).

Dengan cerita itu diterangkan bahwa para raja Jawa punya silsilah alur kekanan keturunan Nabi-nabi dalam Islam, sedang alur kekiri keturunan Dewa-dewa Hindu. Cerita ini adalah contoh kompensasi untuk mempertahankan wibawa raja-raja Jawa melalui karya sastra sesudah kekuasaannya ditelanjangi pemerintah kolonial Belanda.


Contoh lain misalnya dalam Wedhatama mangkunegara IV mengatakan:

Nulada laku utama / tumraping wong Tanah Jawi / wong Agung ing Ngeksi ganda / Panembahan Senapati / Kapati amarsudi / sudaning hawa lan nafsu / pinesu tapa brata / tanapi ing siang ratri / amamangun karyenak tyasing sasama // Wikan Mengkoning samodra / kederan wus den ideri / kinemat kamot ing driya / rinegem sagegem dadi / dumadya angratoni / nenggih Kangjeng Ratu Kidul / ndedel nggayuh nggegana / umarak marek maripih / sor parabawa lan Wong Agung Ngeksiganda // Prajanjine abipraya / saturan-turune wuri / mangkono trahing ngawirya / yen amasah mesu


budi / dumadya Glis dumugi / iya ing sakarsanipun / wong Agung Ngeksiganda / nugrahane prapteng mangkin / trah-tumareh darabe padha wibawa //


Artinya :

Bagi orang Jawa, contohlah laku yang luhur dari raja Mataram, Panembahan Senapati. Beliau ahli tapa brata, suka bertarak mengendalikan hawa-nafsu, yang dilakukan siang dan malam. Beliau suka menyenangkan hati sesama.

Panembahan Senapati telah menguasai rahasia apa yang ada di darat dan lautan telah tercakup dalam kalbu beliau. Maka Nyai Rara Kidul yang merajai segala makhluk halus di laut selatan tunduk di bawah kebesaran Panembahan Senapati, dan berjanji akan menjaga dan melindungi raja-raja keturunan Sang Panembahan.

Itulah Sang Panembahan yang memang keturunan priyayi luhur, bila menjalankan laku prihatin tentu segera terkabul segala keinginannya. Dan barakahnya mensawabi keturunan-keturunannya.